Tuhan Akan Membalas Kekejaman Kalian Merekayasa Ferienjob TPPO dan Mengorbankan Indonesia

Tuhan Tidak Pernah Tertidur

Tuhan akan membalas kekejaman kalian.
Kalimat ini bukan kutukan. Ini adalah satu-satunya pegangan yang tersisa ketika hukum—yang saya percaya melindungi—justru dipakai untuk mengintimidasi saya.

Saya dituduh sebagai tersangka TPPO dalam kasus Ferienjob. Bukan karena fakta. Bukan karena bukti yang adil. Tapi karena narasi yang direkayasa, disebarkan dengan atribut negara, lalu dibiarkan hidup liar di ruang publik

Saya seorang ibu. Saya punya bayi.
Ketika saya mencari perlindungan hukum dan berkonsultasi ke pengacara KBRI Berlin, yang saya dapat bukan kehati-hatian, justru perintah yang kejam: tinggalkan bayi saya di Jerman dan hadiri panggilan sebagai tersangka di Indonesia.

Apakah hukum memang meminta seorang ibu memilih antara martabatnya dan anaknya?
Atau ini hanya tentang kekuasaan yang lupa bahwa yang mereka hadapi adalah manusia?

Perintah yang tidak manusiawi: tinggalkan bayi saya di Jerman dan datang ke Indonesia untuk memenuhi panggilan sebagai tersangka.

Untuk kasus TPPO Ferienjob yang sengaja kalian rekayasa dan manipulasi.

Itu bukan nasihat hukum.
Itu bentuk kekerasan.

Nama saya diumumkan. Reputasi saya dikebiri secara online.
Saya difitnah kriminal perdagangan manusia—kejahatan yang bahkan tak pernah saya bayangkan, apalagi lakukan. Publik mencaci. Saya dibully. Saya dihina. Semua itu terjadi bukan karena putusan pengadilan, tapi karena label “tersangka” yang dilempar begitu saja, tanpa tanggung jawab moral.

Yang paling menyakitkan bukan hanya tuduhannya. Tapi cara tuduhan itu dilakukan.

Beramai-ramai.
Terstruktur.

Dengan manipulasi.
Dengan akses ke properti negara, dengan logo negara, dengan fitnah yang diclaim sebagai kebenaran final.

Itu bukan penegakan hukum.
Itu perundungan berjamaah.

Itu bully terstruktur

bully menggunakan atribut negara.

Kalian menggunakan hukum sebagai alat intimidasi. Menggunakan negara sebagai tameng. Menggunakan kekuasaan untuk membungkam satu orang perempuan yang hanya fokus pada kontribusi, membuka sebanyak mungkin peluang di Jerman untuk orang Indonesia.

Saya diintimidasi atas nama hukum.
Dituduh sebagai tersangka TPPO dalam kasus Ferienjob—tuduhan yang direkayasa, kasus yang direkayasa, fakta yang dipelintir, lalu dipamerkan ke publik dengan atribut negara seolah-olah kebenaran sudah diputuskan. Padahal tidak pernah ada ruang adil bagi saya untuk didengar.

Kalian tahu apa yang paling kejam?
Kalian melakukannya beramai-ramai.

Dengan surat. Dengan logo. Dengan jabatan. Dengan akses ke properti negara.
Lalu menyebutnya “tugas”.

Tidak.
Itu bukan tugas negara.
Itu perundungan kolektif oleh orang-orang yang diberi kuasa, lalu lupa batas.

Hukum kalian jadikan senjata.
Negara kalian jadikan tameng.
Seorang perempuan dan seorang ibu kalian jadikan target.

Hari ini mungkin suara saya kalian bungkam.
Nama saya mungkin kalian seret di lumpur.

Tapi ingat satu hal:
Tuhan tidak pernah tidur. Dan kebenaran tidak membutuhkan teriakan, apalagi intimidasi. Ia hanya membutuhkan waktu.

Dan saat waktu itu tiba, semua atribut, jabatan, dan properti negara yang kalian gunakan untuk membully saya—tidak akan bisa melindungi kalian dari pertanggungjawaban yang sesungguhnya.

Saya masih berdiri.
Sebagai manusia.
Sebagai ibu.
Sebagai seseorang yang menolak dihancurkan oleh kebohongan dan fitnah.

Hari ini mungkin kalian punya mikrofon.
Hari ini mungkin kalian punya kewenangan.

Tapi besok, yang tersisa hanyalah catatan:
siapa yang menyalahgunakan kekuasaan, dan siapa yang bertahan tanpa melanggar nurani.

Tuhan tidak pernah tidur.
Dan keadilan tidak bisa selamanya disandera oleh atribut, jabatan, atau rasa kebal.

Saya masih berdiri.
Tidak meminta belas kasihan.
Tidak menawar kebenaran.

Dan ketika saat itu tiba, kalian tidak akan diadili oleh suara saya—
melainkan oleh apa yang kalian lakukan sendiri.

Author: Kasus TPPO Ferienjob: Fakta, Kejanggalan, dan Tuntutan Pemulihan